Monitor Kreatif

Terdepan Mengabarkan

Terbongkar! Pasokan BBM Palangka Raya Sempat Turun dari 190 KL Menjadi 150 KL per Hari

Keterangan Foto: Mulyadi.

MONITOR KREATIF, PALANGKA RAYA — Fakta baru akhirnya terungkap dalam rapat koordinasi antara Pemerintah Kota Palangka Raya, PT Pertamina Patra Niaga, pengelola SPBU, kepolisian, Kejaksaan Negeri, serta Kodim Palangka Raya, Jumat (8/5/2026).

Dalam rapat tersebut terungkap bahwa distribusi BBM ke Kota Palangka Raya mengalami penurunan signifikan sejak awal Mei 2026. Biasanya, Palangka Raya menerima sekitar 190 kiloliter (KL) BBM per hari. Namun pada periode 1–5 Mei, distribusi justru turun menjadi sekitar 150 KL per hari.

Bahkan dalam dua hari terakhir, pasokan disebut hanya naik tipis menjadi sekitar 170 KL per hari. Angka tersebut dinilai masih jauh dari kebutuhan normal masyarakat yang diperkirakan mencapai sekitar 205 KL per hari.

Kondisi itu menjelaskan mengapa antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU terus terjadi selama beberapa hari terakhir. Artinya, masyarakat memang menghadapi situasi kekurangan pasokan BBM di lapangan.

Ironisnya, di tengah turunnya distribusi tersebut, masyarakat tetap menerima informasi bahwa stok BBM dalam kondisi aman dan terkendali. Hal inilah yang memicu munculnya kritik publik terhadap pola komunikasi Pertamina yang dianggap tidak sejalan dengan kondisi nyata di lapangan.

Bagi masyarakat, ukuran “stok aman” bukan sekadar pernyataan resmi, melainkan apakah warga masih harus mengantre panjang untuk mendapatkan BBM atau tidak.

Kepala Kejaksaan Negeri Palangka Raya, Yunardi, bahkan turut mempertanyakan alasan turunnya distribusi BBM yang dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan daerah.

Sementara itu, Wali Kota Fairid Naparin meminta agar kuota BBM untuk Palangka Raya ditingkatkan secara permanen agar kondisi serupa tidak terus berulang di kemudian hari.

Rapat tersebut juga menghasilkan komitmen pengawasan distribusi BBM di lapangan yang melibatkan aparat kepolisian dan unsur TNI melalui Kodim Palangka Raya. Aparat penegak hukum disebut siap melakukan penyelidikan apabila ditemukan dugaan pelanggaran dalam distribusi BBM.

Di tengah situasi tersebut, masyarakat berharap Pertamina tidak lagi hanya menyampaikan narasi bahwa stok aman, tetapi benar-benar memastikan distribusi BBM berjalan normal hingga antrean di SPBU hilang sepenuhnya.

Sebab, dampak paling besar dirasakan langsung oleh masyarakat kecil yang menggantungkan penghasilan harian dari aktivitas kendaraan dan distribusi barang. Ketika BBM sulit didapat, waktu kerja hilang, biaya operasional meningkat, distribusi terganggu, dan roda ekonomi masyarakat ikut melambat.

Karena itu, antrean panjang BBM di Palangka Raya kini bukan lagi sekadar persoalan distribusi energi, melainkan telah menjadi ujian kepercayaan publik terhadap keseriusan Pertamina dalam menjamin kebutuhan masyarakat daerah.(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini